Siapa yang Menabur, Dialah yang Akan Menuai Hasilnya

Pernah mendengar peribahasa di atas? Ungkapan ini rasanya sudah jamak dikenal oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Cosechas lo que siembras, on récolte ce que l’ on sème, Ernte was Du säst, je oogst wat je zaait, you reap what you sow, what goes around comes around.. Kurang lebih seperti itu. Bukan hanya dalam tatanan budaya, namun dalam berbagai agama pun dikenal tentang adanya “pembalasan”. Karma dipercaya oleh umat Hindu. Dalam alkitab, disebutkan pula sekitar 21 ayat yang menyinggung tentang hal ini. Sedangkan agama Islam pun melalui Al-Quran disampaikan bahwa segala perbuatan manusia selama hidup akan mendapatkan balasan yang setimpal. Baik itu perbuatan baik maupun buruk. Walaupun hanya sebesar biji sawi. Segalanya akan dikembalikan pada kita. Oleh karena itu, sebagai umat yang beriman, seharusnya manusia memikirkan dan mempertimbangkan masak-masak perbuatan, ucapan, sebelum bertindak. Karena kita percaya akan adanya pembalasan, tentu kita tak mau berbuat sesuatu yang akan kita sesali kemudian bukan? Masih untung bila balasannya kontan diterimakan di dunia selama kita masih hidup, lah kalau dibalasnya post mortem? Mau kabur kemana lagi kita? Ngeri vroh..
Dalam kehidupan nyata, pasti sudah sering kita mendengar cerita-cerita penuh hikmah tentang “menanam dan menuai” ini. Bisa dibaca di majalah atau koran, dapat pula disimak dari sinetron atau film, dari cerita-cerita di sekitar kita, atau bahkan yang kita saksikan secara langsung. Tentang suami tidak setia, yang akhirnya ditinggalkan oleh keluarganya. Tentang perempuan pezina yang akhirnya ditimpa berbagai penyakit yang mengerikan. Tentang anak durhaka yang hidupnya menderita sepanjang hayat. Tentang keluarga sederhana yang gemar berderma yang akhirnya bisa naik haji sekeluarga. Dan jutaan kisah hikmah tentang hal serupa lainnya yang pasti sering kita dengar. Semua itu nyata adanya.
Tapi, tidak semua perbuatan langsung mendapatkan balasannya seketika itu juga. Tuhan telah menitipkan pesan melalui kisah-kisah orang lain, yang seharusnya menjadi pelajaran. Tetapi, banyak manusia bebal yang tidak takut akan dosa, merasa semua kesalahannya pasti akan diampuni, menganggap enteng kekeliruannya, terlalu cinta dunia, lupa bahwa semua perbuatannya itu dicatat. Dicatat, dan harus dipertanggungjawabkan suatu hari nanti. Manusia-manusia seperti itu yang terus menerus gigih berbuat semena-mena, sesukanya, semaunya, seolah dunia ini sudah digenggamnya, hanya karena tak ada yang berani menentang atau mengingatkannya. Seperti yang belakangan ini makin marak kita saksikan.
Penguasa lalim yang tak peduli pada jeritan rakyat kecil. Penegak hukum yang tak lagi berpihak pada kebenaran. Pemilik usaha yang memperbudak pekerjanya. Menambang isi bumi, meninggalkan limbah tersisa. Mengeruk disini untuk menguruk yang disana, tanpa peduli kehidupan yang musnah karenanya, alam yang hancur sebagai akibatnya. Padahal konon manusia ini makhluk yang paling mulia. Khalifah Allah di muka bumi katanya. Tapi nyatanya seperti ini kelakuannya. Miris gan..
Mereka mungkin lupa, bahwa ada pertanggungjawaban dan pembalasan. Keledai yang tergelincir karena jalanan berlubang saja sudah membuat Umar ra menangis karena takut diminta pertanggungjawaban oleh Allah swt. Tetapi pemimpin kekinian, masih bisa pesta pora walaupun ratusan orang tewas akibat jalan yang rusak. Pemimpin seharusnya jadi pelayan rakyatnya. Tapi nyatanya, semakin tinggi kedudukannya, semakin minta dilayani, semakin bikin repot orang-orang dibawahnya. Pemimpin seharusnya menyejahterakan rakyatnya, menciptakan suasana masyarakat yang tenteram, adil, aman. Tapi buktinya, tempat maksiat yang difasilitasi. Dengan beking preman-preman berdasi. Pemimpin seharusnya tak bisa tidur nyenyak sebelum rakyatnya bisa tidur nyenyak, tak bisa makan enak sebelum perut rakyatnya kenyang. Tapi buktinya, gizi buruk masih banyak, pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, kebodohan, angka kesakitan dan kematian.. Ah, hayati lelah bang. Negara makin babak belur.
Memang, kita juga bisa berbuat sesuatu. Setidaknya bagi lingkungan sekitar kita, walaupun sedikit. Tak perlu terpengaruh drama busuk yang dipertontonkan para pembesar yang berebut kuasa di atas sana. Karena sekali lagi, siapa yang menabur, dialah yang akan menuai hasilnya. Biarlah mereka menabur angin, toh badai yang muncul pun mereka pula yang akan menuai. Kalaupun kita sebagai butiran debu ikut serta tersapu badai sebagai efeknya, setidaknya kita sudah berusaha meninggalkan jejak kebaikan bagi orang-orang di sekeliling kita. Mudah-mudahan sih, kita tidak ikut menuai badai. Dan semoga Tuhan Yang Maha Mengetahui menyaksikan, bahwa kita termasuk dalam golongan yang menyeru pada kebenaran dan memerangi kebatilan.
Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About subetty

Long-life learning mother of three