Perjalanan ke Barat

Bukan, bukan untuk mencari kitab suci. Tapi dalam rangka melaksanakan perintah. Perjalanan dinas, gitu. Dengan berat hati harus saya tinggalkan buah hati di rumah, demi beberapa hari pengabdian terhadap nusa dan bangsa. Ciee.. lebay..

Let’s not talk about the duty. Let’s talk about the travel.

Ke Sabang.

Sekali pun belum pernah mampir dalam benak bahwa suatu saat dalam hidup saya, bisa saya injakkan kaki di ujung barat Indonesia itu. Memang ada keinginan, tapi tak terlalu saya hiraukan. Apa lagi dengan buntut yang makin lama makin banyak. Keinginan untuk menjelajah pun lesap dengan sendirinya.

Ternyata Tuhan Yang Maha Kuasa beserta alam semesta masih menyimpan catatan keinginan saya itu.

Perjalanan dari domisili sementara saya di Madiun, Jawa Timur, ke Sabang, Aceh, tentu bukan makan waktu yang singkat. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih yang relatif paling “mudah” dan cepat. Dimulai dengan perjalanan menggunakan kereta api dari stasiun Madiun sampai ke Stasiun Tugu Yogyakarta. Saya memilih kereta api Malioboro Ekspress yang berangkat dari kota Malang di pukul 20.00 malam, dan singgah di Madiun sekitar pukul 01.00 dini hari.

Kereta tiba di Yogya sekitar pukul 04.00 subuh. Saya langsung menuju bandara Adi Sucipto menggunakan taksi online. Sholat subuh di mushola bandara. Lanjut check in untuk penerbangan pukul 06.00 pagi.

Pesawat Citilink tujuan Yogya-Medan yang membawa saya singgah di bandara Halim Perdanakusuma selama sekitar 1,5 jam. Cukup untuk sekadar mencari sarapan pagi di depan bandara. Setelah perut terganjal, perjalanan berlanjut selama kurang lebih 2 jam ke bandara Kualanamu, Medan.

Di Medan, saya menunggu selama 2 jam lebih karena pesawat yang akan membawa kami ke Sabang terhambat cuaca buruk. Memang, ketika landing cuaca sedang hujan deras. Awan kelabu menggelayut di langit. Untung tak pakai angin kencang.

Itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di bandara Kualanamu. Terakhir kali ke Medan, saya masih menggunakan bandara Polonia. Ternyata Kualanamu cukup besar, bagus, dan nyaman. Sayang, saya tak mendokumentasikannya.

Perjalanan berlanjut dengan pesawat kecil Wings Air yang membawa kami ke Sabang. Pesawat ke Sabang tak selalu ada tiap hari. Hanya 3-4 kali dalam seminggu. Dan kali itu pun tak penuh terisi.

Kami tiba di Sabang disambut terik mentari menjelang sore. Dari atas, bandara yang berada di ujung pulau itu menyuguhkan pemandangan yang indah. Selat yang tenang, dihiasi titik-titik kapal besar dan kecil, berwarna biru gelap, menyembunyikan rahasia di kedalamannya. Pantai berpasir putihnya pendek saja, sehingga dari jauh seolah barisan pepohonan langsung bersentuhan dengan air biru kehijauan.

Sabang memiliki beberapa titik wisata. Mulai dari tugu nol kilometer yang menandai titik paling barat Indonesia, beberapa spot penyelaman, hingga penyeberangan ke pulau terluar yang tak berpenghuni.

Sayangnya saya tak sempat berenang dan menyelam-nyelam ria. Pasti asyik sekali. Konon ada juga spot yang “mengandung” hiu. Pasti seru sekali kan, renang kejar-kejaran sama mereka. Hahaha…

Next, sebagai sebuah kota di pulau kecil, Sabang tentu punya pemandangan sunrise dan sunset yang menakjubkan. Tinggal pilih saja ingin menikmati dari pantai yang mana.

Sedangkan untuk kuliner, tak terlalu banyak yang ditawarkan sebagai pilihan. Menu sajian laut tentu saja menjadi salah satunya. Sate gurita dengan bumbu kacang atau bumbu Padang sebagai pilihan. Dan ternyata rasanya memang enak. Pilihan lain adalah mie Sedap dan mie Jalak yang menggunakan kuah kaldu ikan yang bening dan lezat.

Tak lama memang, waktu yang saya habiskan di Sabang.

Saya kembali ke Banda Aceh menggunakan kapal cepat yang berangkat dari pelabuhan Balohan pukul 08.00 pagi. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam saja sampai kami mendarat di dermaga Ulee Lheue.

Mengejar pesawat Aceh-Jakarta yang sengaja saya pesan mepet, kami pun berpacu menuju bandara udara Internasional Banda Aceh. Tapi kami sempat mampir di sebuah kedai kopi yang konon terkenal di kota Banda dan membeli beberapa bungkus kopi Gayo sebagai buah tangan.

Pengemudi taksi yang membawa kami pun dengan lihai dan cekatan membawa kami singgah di monumen kapal PLTD Terapung seberat ribuan ton yang tersapu gelombang tsunami hingga ke tengah kota Banda. Walaupun tutup karena kami tiba di hari Jumat, tapi kami sempatkan berfoto di sebelah luarnya.

Dan akhirnya saya pun harus pergi, meninggalkan jejak saya di bumi serambi Makkah yang penuh sejarah.

Walaupun singkat, kenangan tentang Sabang dan Banda Aceh cukup meninggalkan kesan di hati saya.

Entah apakah suatu saat saya dan keluarga masih diberi kesempatan untuk berkunjung lagi ke sana, mengeksplorasi lebih jauh lagi provinsi paling barat Indonesia itu hingga puas. Allahu a’lam.

***

5 thoughts on “Perjalanan ke Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About subetty

Long-life learning mother of three